Seorang gadis kecil berlari-lari menuju Ka’bah, kemudian ia
bergegas menuju orang tua yang tengah bersujud. Astaghfirullah...., dilihat
punggung orang itu penuh kotoran unta. Masih dalam kondisi nafas
tersengal-sengal, secepat kilat gadis kecil itu membersihkannya. Bercampur rasa
geram air mukanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Betapa tidak!
Kotoran unta membalurihampir seluruh jubah orang tua itu.
Kejadian itu adalah ulah dari orang-orang yang kini masih
tegak berdiri di sekeliling anak gadis dan orang tua yang kini berangkulan itu.
Anehnya, orang tua yang diganggu sedikitpun tak menunjukkan kemarahan.
Sebaaliknya, anak gadis itu menyemprotkan kata-kata kemarahan
sembari masih membersihkan kotoran itu. Gadis itu geram atas perlakuan tak
senonoh dan sewenang-wenang. Sikap gadis itu semakin memancing olok-olok dan
suara-suara celaan, bahkan ancaman orang-orang sombong tadi.
Tapi, subhanallah! Gadis itu tak mengenal takut sedikitpun.
Ia bahkan menantang orang-orang sombong yang tak bermoral itu. Raut mukanya
betul-betul menunjukkan kemarahan, padahal ia tahu yang tengah dihadapinya
adalah para begundal Quraisy yang kesohor kekejamannya.
Bukan sekali dua kali gadis itu menyaaksikan tingkah
ugal-ugalan begundal tersebut terhadap orang tua yang kini tengah dirangkulnya
itu. Tak seperti orang tua yang seakan tak merasakan pelecehan itu, gadis itu
terus menangis sesenggukan melihat perlakuan yang tak senonoh tersebut.
Siapakah gadis kecil tadi? Ia adalah Fatimah binti Muhammad
saw. Masa kanak-kanaknya diwarnai pergolakan sengit antara risalah suci yang
dibawa ayahnya menghadapi para penentangnya yang keras. Ia harus menyaksikan
sikap pengingkaran masyaraakat Quraisy Jahiliyyah terhadap risalah tauhid yang
diserukan ayahnya. Sikap pengingkaran massal itu tidak sekedar fisik dan
fitnah. Dalam usia relatif. Dalam usia relatif masih kanak-kanak, semestinya
Fatimah tidak terlalu “concern”, bahkan mestinya belum tahu tentan risalah
besar yang dibawa ayahnya. Usia kanak-kanaknya terlalu naif, bila harus
mengamati “perang besar” antara ayah dengan para menentangnya.
Tapi Allah telah memberikan kelebihan pada putri Nabi dari
ibunda Khadijah ini. Ia dikaruniai Allah sifat lemah lembut, cerdas dan berani.
Kelebihan karunia itu jelas tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Hal ini
nampak pada kehidupan masa kanak-kanaknya. Semestinya, dunia Fatimah kala itu
adalah dunia bermain, bercanda, bermanja di dalam buaian tangan lembut sang
ummi, dan merengek, menangis digendongan Nabi. Namun adakah waktunya untuk
hal-hal yang demikian, sementara ayah dan ibunya jatuh bangun membendung arus
pengingkaran masal masyarakatnya?
Tidak! Aku tak boleh berpangku tangan melihat kenyataan ini.
Bagaimana mungkin aku bisa bermain-main, melihat cacian, makian, hinaan,
fitnah, serta perlakuan tak senonoh senantiasa menggempur Abi?” Muhammad
membawa ajaran sihir!”, Muhammad sudah gila,” “muhammad ingin merusak persatuan
kaum Quraisy!”
“Muhammad dan semua pengikutnya harus diboikot!”
Fatimah menirukan cacian pembangkang.
Demikianlah, Fatimah harus menyaksikan kenyataan pahit yang
melanda keluarganya, teutama gangguan-gangguan yang menyakitkan yang menimpa
ayahnya. Fenomena ini, ajaibnya, telah mampu dicerna oleh Fatimah kecil. Dan
kondisi inilah yang melahirkan, “kecerdasan pandangan” yang lebih prematur pada
pribadiseusia Fatimah. Fatimah bahkan senantiasa cermat dan setia mencurahkan
masa kanak-kanaknya untuk risalah besar yang dibawa ayahnya. Masa kanak-kanaknya
adalah masa keprihatinan dan masa kekhawatiran atas keselamatan jiwa ayah dari
ancaman orang-orang kafir. Untuk itulah
Fatimah nyaris selalu memantau kemana ayahnya pergi.
Fatimah pula harus turut merasakan bagaimana pahit
penderitaan atas pemboikotan terhadap keluarganya oleh masyarakat jahiliyyah
Quraisy selama 3 tahun.
Setelah selesai masa pemboikotan itu, ujian baru yang lain
pun melanda kehidupannya. Ibunya, Khadijah pulang ke rahmatullah. Fatimah yang
belum lagi puas dibuai dan dibelai sang bunda, sedih sekali menghadapi
kenyataan ini.
Ia memaandangi orang yang sangat dicintai yang saat itu
telah terbujur tanpa nyawa. Air mata Fatimah berderai tak tertahan. Sang ayah
yang melihat adegan itu hanya hening membiarkan putrinya tercinta menumpahkan
perasaan duka nestapanya yang dalam.
Fatimah melambangkan seorang wanita yang hidupnya dibaktikan
sesuai dengan kepribadiannya kepada keluarga dan Islam. Keagungannya bukan
lantaran ia berbuat untuk dirinya sendiri, melainkan karena usahanya untuk
memelihara iman untuk orang-orang disekelilingnya. Umurnya yang pendek mencakup
periode kenabian ayahnya. Saat kelahirannya, ayahnya belum diangkat menjadi
Rasul. Fatimah wafat dalam usia 20-an, beberapa bulan setelah ayahnya meninggal
dunia.
Lembaran kisah hidupnya
penuh dengan hal-hal yang menakjubkan. Sejarah mencatat ia sebagai ibu
rumah tangga yang bekerja keras, bekerja dengan segenaap kemampuannya untuk
kepentingan keluarganya dalam kondisi yang miskin. Pilihannya kepada Ali bin
Abi Thaliblah yang berhasil merebut pesonanya. Daan konsekuensi atas pilihannya
itupun ia jalankan penuh istiqamah walau ia harus jatuh bangun menegakkan
pilar-pilar bangunan rumah tangganya.
Ia sering kekurangan makan, tetapi ia tak pernah melupakan
untuk membagi apa yang dimilikinya kepada orang lapar, yang datang menghampiri
pintu rumahnya. Dia sangat sayang kepada ayahnya, patuh kepada suami, dan setia
kepada risalah yang diajarkan ayahnya. Apa saja yang mereka pelajari dari
ayahnya, selalu mereka ajarkan kembali kepada para sahabat dan anak-anaknya.
Ketika kehidupan berangsur membaik dan makanan yang tersedia
cukup lumayan, rumah tangganyaa kadang-kadang tetap tak mempunyai apa-apa
sepanjang hari. Hal itu karena mereka sering memberikan makanan kepada
orang-orang yang jauh lebih sengsara. Dengan begitu ia agaknya berusaha
menyelami lautan penderitaan saudara-saudaranya seiman. Semua itu ia lakukan
dengan satu kesadaran penuh “ia adalah Fatimah, putri seorang paling mulia di
sisi Allah.”
Demikianlah ketegaran dan kezuhudan dari Fatimah, putri
Rasulullah yang demikian agung. Dan masih banyak lagi gambarran-gambaran lain
yang mencerminkan jati dirinya.
Lucky Club: Slots, Table Games, Live Casino - Lucky Club
ReplyDeleteLucky Club luckyclub.live has over 500 games, including slots, table games, live dealers, video poker, live dealer games, live dealer casino, bingo and so much more.