Thalhah bin ubaidillah termasuk salah seorang sahabat yang
kaya raya. Kenyataannya terus bertambah setiap selesai menyerahkan hartanya di
jalan Allah. Suatu hari, istrinya Su’udah bin ‘Auf menjumpai suaminya dalam
keadaan murung. Ketika ditanya, Thalhah menjawab: “Harta yang banyak itu sangat
menyusahkan dan menyempitkan ruang gerakku,” kata Thalhah kepada istrinya.
Sang istri lantas menasehati, agar harta itu diserahkan saja
kepada fakir miskin, yatim piatu dan orang-orang yang membutuhkan.
Thalhah spontan bangkit dan memanggil orang-orang untuk
membagi-bagikan harta sampai habis.
Sementara pada saat lain, selesai menjual sebidang tanah, ia
melihat tumpukan uang menggunung. Tanpa terasa ia berlinang air matanya, dan
berkata: “sungguh, bila seseorang dibebani harta banyak dan tidak tahu apa yang
akan dilakukannya, pasti akan mengganggu ketentraman beribadah kepada Allah.”
Selesai berkata demikian, Thalhah tetap memberikan belanja
kepada orang-orang Bani Taim yang mempunyai tanggungan keluarga, menikahkan
mereka, menyantuni anak yatim, dan mengkhitankan mereka serta membayar hutang
orang-orang yang tak mampu.
Itulah Thalhah bin’ Ubaidillah yang digelari “Thalhah yang
baik hati.” Demikianlah Allah melapangkan rezeki hambanya yang selalu menafkahkan
hartanya di jalan Allah.
No comments:
Post a Comment