Wednesday, 6 April 2016

Belajar Ketegaran dari Fatimah Az-Zahra Saat Ditimpa Cobaan yang Bertubi-tubi




Seorang gadis kecil berlari-lari menuju Ka’bah, kemudian ia bergegas menuju orang tua yang tengah bersujud. Astaghfirullah...., dilihat punggung orang itu penuh kotoran unta. Masih dalam kondisi nafas tersengal-sengal, secepat kilat gadis kecil itu membersihkannya. Bercampur rasa geram air mukanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Betapa tidak! Kotoran unta membalurihampir seluruh jubah orang tua itu.

Kejadian itu adalah ulah dari orang-orang yang kini masih tegak berdiri di sekeliling anak gadis dan orang tua yang kini berangkulan itu. Anehnya, orang tua yang diganggu sedikitpun tak menunjukkan kemarahan.
Sebaaliknya, anak gadis itu menyemprotkan kata-kata kemarahan sembari masih membersihkan kotoran itu. Gadis itu geram atas perlakuan tak senonoh dan sewenang-wenang. Sikap gadis itu semakin memancing olok-olok dan suara-suara celaan, bahkan ancaman orang-orang sombong tadi.

Tapi, subhanallah! Gadis itu tak mengenal takut sedikitpun. Ia bahkan menantang orang-orang sombong yang tak bermoral itu. Raut mukanya betul-betul menunjukkan kemarahan, padahal ia tahu yang tengah dihadapinya adalah para begundal Quraisy yang kesohor kekejamannya.
Bukan sekali dua kali gadis itu menyaaksikan tingkah ugal-ugalan begundal tersebut terhadap orang tua yang kini tengah dirangkulnya itu. Tak seperti orang tua yang seakan tak merasakan pelecehan itu, gadis itu terus menangis sesenggukan melihat perlakuan yang tak senonoh tersebut.

Siapakah gadis kecil tadi? Ia adalah Fatimah binti Muhammad saw. Masa kanak-kanaknya diwarnai pergolakan sengit antara risalah suci yang dibawa ayahnya menghadapi para penentangnya yang keras. Ia harus menyaksikan sikap pengingkaran masyaraakat Quraisy Jahiliyyah terhadap risalah tauhid yang diserukan ayahnya. Sikap pengingkaran massal itu tidak sekedar fisik dan fitnah. Dalam usia relatif. Dalam usia relatif masih kanak-kanak, semestinya Fatimah tidak terlalu “concern”, bahkan mestinya belum tahu tentan risalah besar yang dibawa ayahnya. Usia kanak-kanaknya terlalu naif, bila harus mengamati “perang besar” antara ayah dengan para menentangnya.

Tapi Allah telah memberikan kelebihan pada putri Nabi dari ibunda Khadijah ini. Ia dikaruniai Allah sifat lemah lembut, cerdas dan berani. Kelebihan karunia itu jelas tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Hal ini nampak pada kehidupan masa kanak-kanaknya. Semestinya, dunia Fatimah kala itu adalah dunia bermain, bercanda, bermanja di dalam buaian tangan lembut sang ummi, dan merengek, menangis digendongan Nabi. Namun adakah waktunya untuk hal-hal yang demikian, sementara ayah dan ibunya jatuh bangun membendung arus pengingkaran masal masyarakatnya?
Tidak! Aku tak boleh berpangku tangan melihat kenyataan ini. Bagaimana mungkin aku bisa bermain-main, melihat cacian, makian, hinaan, fitnah, serta perlakuan tak senonoh senantiasa menggempur Abi?” Muhammad membawa ajaran sihir!”, Muhammad sudah gila,” “muhammad ingin merusak persatuan kaum Quraisy!”
“Muhammad dan semua pengikutnya harus diboikot!”
Fatimah menirukan cacian pembangkang.

Demikianlah, Fatimah harus menyaksikan kenyataan pahit yang melanda keluarganya, teutama gangguan-gangguan yang menyakitkan yang menimpa ayahnya. Fenomena ini, ajaibnya, telah mampu dicerna oleh Fatimah kecil. Dan kondisi inilah yang melahirkan, “kecerdasan pandangan” yang lebih prematur pada pribadiseusia Fatimah. Fatimah bahkan senantiasa cermat dan setia mencurahkan masa kanak-kanaknya untuk risalah besar yang dibawa ayahnya. Masa kanak-kanaknya adalah masa keprihatinan dan masa kekhawatiran atas keselamatan jiwa ayah dari ancaman orang-orang kafir.  Untuk itulah Fatimah nyaris selalu memantau kemana ayahnya pergi.

Fatimah pula harus turut merasakan bagaimana pahit penderitaan atas pemboikotan terhadap keluarganya oleh masyarakat jahiliyyah Quraisy selama 3 tahun.
Setelah selesai masa pemboikotan itu, ujian baru yang lain pun melanda kehidupannya. Ibunya, Khadijah pulang ke rahmatullah. Fatimah yang belum lagi puas dibuai dan dibelai sang bunda, sedih sekali menghadapi kenyataan ini.
Ia memaandangi orang yang sangat dicintai yang saat itu telah terbujur tanpa nyawa. Air mata Fatimah berderai tak tertahan. Sang ayah yang melihat adegan itu hanya hening membiarkan putrinya tercinta menumpahkan perasaan duka nestapanya yang dalam.

Fatimah melambangkan seorang wanita yang hidupnya dibaktikan sesuai dengan kepribadiannya kepada keluarga dan Islam. Keagungannya bukan lantaran ia berbuat untuk dirinya sendiri, melainkan karena usahanya untuk memelihara iman untuk orang-orang disekelilingnya. Umurnya yang pendek mencakup periode kenabian ayahnya. Saat kelahirannya, ayahnya belum diangkat menjadi Rasul. Fatimah wafat dalam usia 20-an, beberapa bulan setelah ayahnya meninggal dunia.

Lembaran kisah hidupnya  penuh dengan hal-hal yang menakjubkan. Sejarah mencatat ia sebagai ibu rumah tangga yang bekerja keras, bekerja dengan segenaap kemampuannya untuk kepentingan keluarganya dalam kondisi yang miskin. Pilihannya kepada Ali bin Abi Thaliblah yang berhasil merebut pesonanya. Daan konsekuensi atas pilihannya itupun ia jalankan penuh istiqamah walau ia harus jatuh bangun menegakkan pilar-pilar bangunan rumah tangganya.
Ia sering kekurangan makan, tetapi ia tak pernah melupakan untuk membagi apa yang dimilikinya kepada orang lapar, yang datang menghampiri pintu rumahnya. Dia sangat sayang kepada ayahnya, patuh kepada suami, dan setia kepada risalah yang diajarkan ayahnya. Apa saja yang mereka pelajari dari ayahnya, selalu mereka ajarkan kembali kepada para sahabat dan anak-anaknya.

Ketika kehidupan berangsur membaik dan makanan yang tersedia cukup lumayan, rumah tangganyaa kadang-kadang tetap tak mempunyai apa-apa sepanjang hari. Hal itu karena mereka sering memberikan makanan kepada orang-orang yang jauh lebih sengsara. Dengan begitu ia agaknya berusaha menyelami lautan penderitaan saudara-saudaranya seiman. Semua itu ia lakukan dengan satu kesadaran penuh “ia adalah Fatimah, putri seorang paling mulia di sisi Allah.”

Demikianlah ketegaran dan kezuhudan dari Fatimah, putri Rasulullah yang demikian agung. Dan masih banyak lagi gambarran-gambaran lain yang mencerminkan jati dirinya.

Tuesday, 5 April 2016

Thalhah yang Baik Hati



Thalhah bin ubaidillah termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kenyataannya terus bertambah setiap selesai menyerahkan hartanya di jalan Allah. Suatu hari, istrinya Su’udah bin ‘Auf menjumpai suaminya dalam keadaan murung. Ketika ditanya, Thalhah menjawab: “Harta yang banyak itu sangat menyusahkan dan menyempitkan ruang gerakku,” kata Thalhah kepada istrinya.
Sang istri lantas menasehati, agar harta itu diserahkan saja kepada fakir miskin, yatim piatu dan orang-orang yang membutuhkan.

Thalhah spontan bangkit dan memanggil orang-orang untuk membagi-bagikan harta sampai habis.
Sementara pada saat lain, selesai menjual sebidang tanah, ia melihat tumpukan uang menggunung. Tanpa terasa ia berlinang air matanya, dan berkata: “sungguh, bila seseorang dibebani harta banyak dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya, pasti akan mengganggu ketentraman beribadah kepada Allah.”
Selesai berkata demikian, Thalhah tetap memberikan belanja kepada orang-orang Bani Taim yang mempunyai tanggungan keluarga, menikahkan mereka, menyantuni anak yatim, dan mengkhitankan mereka serta membayar hutang orang-orang yang tak mampu.

Itulah Thalhah bin’ Ubaidillah yang digelari “Thalhah yang baik hati.” Demikianlah Allah melapangkan rezeki hambanya yang selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Petuah dari adik Imam Al-Ghazali




Kalau masuk pejamkan mata
Kalau keluar bisukan lidah
Dan pakailah pakaian kebesaran, yaitu taqwa.

Demikianlah nasihat hikmah filosofis dari Ahmad Al-Ghazali, adik Imam Al-Ghazali kepada kakaknya sendiri.

Seperti diketahui, imam al-ghazali adalah dua bersaudara, yaitu al-ghazali dan adiknya ahmad al-ghazali. Selagi imam al-ghazali berada di puncak kejayaan, sehilir semudik dengan orang-orang besar pada zamannya, maka saat itulah adiknya mengirim nasehat demikian indah dalam sebuah sajaknya yang berhikmah. Dua tokoh ini merupakan “bintang di langit” Islam. Mereka lahir dari dua orang tua pedagang kecil yang menginginkan anaknya yang kelak akan disumbangkan untuk kemuliaan Islam. Kemudian lahir kedua kakak beradik itu menjadi manusia di dunia.

Imam al-ghazali adalah guru yang dihhormati dan pengarang ulung. Hasil karya yang monumental imam al-ghazali “Ihya Ulumuddin.”
Sedangkan adiknya, ahmad al-ghazali, menjadi juru dakwah yang sangat ahli dan mengesankan di Baghdad (Irak). Ia tidak banyak mengarang seperti kakaknya, tetapi Ihya Ulumuddin itu disaripatikan dengan nama “Lubabul Ihya”.

Arti syair itu...!

kalau masuk pejamkan mata”... baik keluar dari tempat, rumah dan mahligainya orang yang mampu, maupun dimana jua, hendaknya bisukan lidah agar jangan menceritakan apayang ada disana. Sebab menceritakan itu, lambat laun bisa menyentuh hati dan merayu mata, sehingga gampang berpaling dari kebenaran.

pakailah selalu pakaian kebesaran, yaitu taqwa.” Artinya, kemampuan menjaga diri dalam segala situasi dan kondisi, tidak dapat dipukau dan di pesona oleh apa pun juga termasuk kedudukan, keharuman nama, kecantikan dan lain sebagainya.

Abu Nawas dan Gubuk Reyot



Pada suatu hari Abu Nawas duduk bersama kawan-kawannya disebuah gubuk reyot. Mereka sedang bercengkrama. Tiba-tiba terdengar suara atap gubuk diterpa angin” kreeeek....” kemudian Abu Nawas mencari dari mana sumber suara itu.
Sambil melotot ke arah atas, ia berkata: “wahai kawan, suara apa yang sedang berbunyi itu?” tanya “Abu Nawas kepada kawan-kawannya.

“O..., itu suara gubuk reyot. Ia sedang membaca tasbih, berdzikir kepada Allah, “ jawab kawan Abu Nawas menggoda.
Kontan Abu Nawas beranjak keluar dari gubuk reyot itu. “Wahai Abu Nawas, mau kemana kau,” tegur kawannya.

 “wahai kawan, aku khawatir andai atap gubuk reyot  ini semakin khusyuk berdzikir, lalu bersimpuh kehadapan Allah, sedang kau masih asyik duduk-duduk di situ,” jawab Abu Nawas.
Maka teman-teman Abu Nawas tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban lucu dari Abu Nawas tersebut.